Di Finlandia, Dede Yusuf Diskusi Peran Negara Terkait UKT

0
45

BANDUNG– Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi baru saja memimpin sekitar 30 anggota Parlemen kita kunjungan kerja ke Eropa. Yang dituju adalah negara dengan status paling bahagia di dunia.

Bukan hanya itu. Negara di Eropa Barat itu juga pada 2023 menyandang predikat sebagai 1 dari 3 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Ya. Negara itu adalah Finlandia.

‘Negara demokrasi liberal, namun hampir separuh kebutuhan masyarakat dibiayai negara. Tapi pajak juga mencapai 40 persen,” ujar Dede Yusuf di laman medsosnya, Senin (3/6/2024).

“Masyarakatnya disebut sebagai masyarakat paling bahagia sedunia., karena puas dengan sistem kehidupan di sana,” kata politikus senior Partai Demokrat ini.

Dari 149 negara yang disurvei oleh Gallup, Finlandia di ranking satu dengan skor 7,84. Indonesia berada di ranking 80 dengan skor 5,57. Amerika Serikat ranking 23, sementara Thailand dan Malaysia di urutan 58 dan 59.

“Kesenjangan ekonomi Finlandia, ketimpangannya kecil sekali,” tutur wakil rakyat dari dapil Jabar II ini.

Walau sebuah cita-cita, Indonesia dan Finlandia memang tidak bisa dibandingkan begitu saja. Penduduk Finlandia hanya 5,5 juta jiwa. Kurang lebih sama dengan penduduk Kabupaten Bogor.

Coba bandingkan dengan Indonesia yang mencapai lebih 280 juta. Lain Finlandia, lain pula Indonesia.

Di bidang pendidikan, tidak ada salahnya Indonesia belajar. Salah satunya sistem pendidikan di sana tidak mengenal ranking peserta didik.

“Sistem pendidikan di Finlandia tidak memiliki tes atau ujian yang diwajibkan, kecuali satu ujian pada akhir tahun terakhir siswa di sekolah menengah atas,” ungkap Dede Yusuf.

Sisi lainnya, sangat sedikit atau bahkan tidak ada pekerjaan rumah (PR) bagi siswa. Tapi anak-anak diminta membaca buku di rumah. “Dengan begitu nilai literasi mereka tinggi sekali,” kata wakil gubernur Jabar periode 2008-2013 ini.

Jam sekolah, lanjut Dede Yusuf, cukup 4-6 jam saja bagi sekolah dasar dan menengah.
Sisanya mereka diberi kesempatan melalukan “field trip” ke perpustakaan, museum, pantai, bangunan bersejarah, bahkan ke gedung parlemen.

“Jadi bukan ke tempat wisata ya,” tegas doktor Administrasi Publik jebolan Unpad ini.

Catatan berikutnya, Dede menyoroti tidak ada sistem pemeringkatan. Hal ini yang membuat kualitas siswa di Finlandia bisa berkembang secara maksimal.

Sebab, tidak ada perbandingan atau persaingan antarsiswa, sekolah atau daerah. “Juga tidak ada sekolah favorit, semua sekolah standarnya sama,” katanya.

Terkait kurikulum, Dede Yusuf menyebut sangat sederhana. Jumlah mata pelajaran simpel. Tetapi mementingkan pendidikan karakter, kultur, dan nasionalisme.

“Membaca buku cerita, sejarah, dan legenda jadi hiburan anak di sana. Semua buku dilalap,” ungkapnya.

Hal lain, Dede menyebut setiap anak memiliki kesempatan yang baik untuk mendapatkan pendidikan. Dengan kualitas yang sama pula. Tidak peduli apakah dia tinggal di pedesaan atau di kota.

Di ruang komisi Parlemen Finlandia yang mengurusi soal pendidikan, tenaga kerja, dan pariwisata, Dede Yusuf juga membahas uang kuliah tunggal (UKT). Diskusi serius bagaimana peran negara mendorong warga ke jenjang pendidikan tinggi.

“Kita diskusi sengit dengan mereka. Di Finlandia ada subsidi negara sehingga UKT bisa dijangkau,” kata Dede.

Hal itu penting karena Komisi X DPR telah minta Mendikbud Ristek Nadiem Makarim untuk membatalkan kenaikkan UKT di perguruan tinggi negeri. Selain menjebak mahasiswa baru, kenaikkannya fantastis. Bahkan disebut tidak manusiawi.

Dari semua hal yang diperoleh selama di Finlandia, Dede Yusuf melihat banyak sisi untuk jadi rujukan kebijakan. “Semoga bisa kita adopsi yang cocok dengan alam dan demografi Indonesia,” pungkas Dede Yusuf. (adb/R-03)

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here