Dua Menteri Hadiri Jambore Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf Usulkan Hal Ini

BANDUNG– Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) pimpinan Sendy Dede Yusuf mendorong hadirnya museum batik di ibu kota Jawa Barat. Hal itu penting sebagai wadah pelestarian sekaligus ruang penguatan ekonomi bagi para perajin.

Inisiatif yang berawal dari aspirasi para perajin lokal tersebut disampaikan dalam forum Jambore Batik yang di gelar di Golden Flower Hotel Bandung, 24-25 Oktober 2026. Di acara itu hadir dua menteri, yakni Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Ketua YBJB Sendy Dede Yusuf menyebut keberadaan museum di Kota Bandung penting karena diproyeksikan menjadi pusat informasi dan ajang promosi bagi karya-karya batik dari seluruh wilayah di Jawa Barat. Kehadirannya tidak hanya menampilkan benda sejarah, melainkan mampu mengusung konsep edukatif dan interaktif bagi masyarakat luas.

“Ini kan hanya ide, aspirasi dari masyarakat pembatik di Jawa Barat. Tentu inginnya di ibu kota, di Kota Bandung. Mungkin ada aset pemerintah yang bisa digunakan menjadi sebuah museum batik, sehingga di situ bisa ada kegiatan membatik yang juga memiliki nilai ekonomi,” ujar Sendy.

Selain dua menteri, Jambore Batik Jawa Barat dihadiri juga sejumlah tokoh nasional. Antara lain, Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf Macan Effendi dan Wakil Ketua BAKN DPR Herman Khaeron yang juga Sekjen DPP Partai Demokrat. Kemudian CEO Kagum Group Hendri Husada.

Lainnya tampak hadir anggota DPR Cellica Nurrachadiana, lalu dua anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Jawa Barat, yaitu dr Ratnawati (ketua) dan Saeful Bachri, serta M. Hailuki selaku wakil ketua DPRD Kabupaten Bandung. Berikutnya pimpinan OPD (organisasi pemerintah daerah) Provinsi dan kabupaten/kota se-Jabar.

Menurut Sendy Dede Yusuf, konsep museum dirancang terpadu dengan memadukan unsur edukasi, pengalaman membuat batik, hingga kuliner khas Jawa Barat. Pendekatan one stop shopping dinilai ampuh untuk memperkuat daya tarik pariwisata daerah.

Museum batik juga diproyeksikan sebagai ruang pamer utama yang menyambungkan wisatawan dengan perajin batik secara langsung. Hal ini memberikan kepastian kualitas serta harga yang wajar bagi pembeli.

“Sebagai window shopping. Kalau misalnya orang-orang melihat showcase-nya ada di mana sih? Batik Jawa Barat di mana sih kita bisa lihat? Ada tuh di Kota Bandung. Di museum itu kita bisa menikmati keindahannya, bisa memilikinya dengan membeli langsung dari perajinnya, asli batiknya, asli perajinnya, dan juga asli harganya,” kata Sendy.

Gayung bersambut. Gagasan terkait museum batik direspons Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Pihaknya menyambut baik gagasan pendirian ruang pamer khusus kekayaan wastra Nusantara di wilayah Jawa Barat tersebut.

“Tentu kita sangat mendukung ya. Yang paling penting dimulai dulu dengan perencanaannya. Lahannya di mana, perencanaannya di mana dan mungkin bagaimana kolaborasinya. Dari kami sangat mendukung sekali,” jelas Fadli Zon.

Menurut politikus Partai Gerindra ini, tata kelola museum serupa telah diterapkan pemerintah pusat melalui keberadaan Museum Batik di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Potensi kekayaan wastra Nusantara sangat besar untuk terus dikembangkan melalui berbagai sarana edukasi, termasuk di daerah.

Museum batik di daerah, papar Fadli Zon, diharapkan memicu pertumbuhan ekonomi berbasis kebudayaan, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi.

“Wastra kita itu harus menjadi ekonomi budaya sirkular. Dan ini akan menghidupkan tentu para pembatik, pengrajin, UMKM, koperasi dan juga ekonomi yang tumbuh dari basis-basis budaya kita,” tegas Fadli Zon. (adb)

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img