Azis Abdullah: Jurnalis, Pengacara dan “Ustadz” yang Bikin Pembenci Pers Senut-senut

0
38

Menjadi jurnalis di zaman sekarang itu berat. Kalau enggak dituduh “goreng berita”, ya siap-siap kena semprot oknum yang alergi kritik. Tapi tenang, insan pers di Sumedang punya sosok “benteng pertahanan” bernama Azis Abdullah.

Lulusan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) ini bukan cuma pandai merangkai kata, tetapi juga lihai menyatukan wadah media agar para wartawan tak gampang diintimidasi. Ibarat kata, Azis ini pawangnya pers Sumedang!

Jangan Coba-Coba Usik Jurnalis!
Sepintas, pembawaan Azis memang kalem khas priangan. Namun, begitu ada kasus kekerasan terhadap wartawan, ketenangannya langsung berubah jadi “mode tempur”.

Bagi wartawan berlisensi Madya Dewan Pers ini, main fisik ke jurnalis bukan sekadar masalah antarpribadi, melainkan jurus picik mencederai demokrasi. Maklum, selain memegang kartu wartawan, pria kelahiran Sumedang ini juga berkiprah di Kantor Hukum I Nengah Merta, S.H., M.H., M.Si & Associates Jadi, kalau ada oknum yang nekat main pukul, siap-siap saja berhadapan dengan pasal hukum.

“Pers bekerja di bawah perlindungan undang-undang. Kekerasan itu intimidasi, dan kita lawan pakai mekanisme hukum, bukan otot!” tegas Azis.

Luruskan Sengketa Berita, Bukan Pakai Oknum Ormas

Tak hanya galak ke pelaku kekerasan, Azis juga aktif mengedukasi masyarakat. Banyak orang masih bingung kalau kena “sentil” berita.

Padahal, caranya simpel dan elegan: gunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai UU Pers, bukan malah bawa pasukan atau main ancam. Dengan telaten, Azis meluruskan kaprah ini agar publik paham prosedur hukum yang beradab.

Jurnalisme Santri: Biar Berita Pedas, Hati Tetap Adem

Dunia pers memang keras, tapi Azis punya resep rahasia agar tetap grounded. Ia memadukan ketajaman tinta dengan penguatan spiritual melalui konsep “jurnalisme santri”.

Sebagai Pimpinan Majelis Taklim Wartawan Sumedang FORKOWAS sekaligus pengurus Majelis Taklim Bersatu Sumedang, Azis selalu mengingatkan koleganya: integritas wartawan itu harus berakar dari nilai agama.

Jurnalis yang pernah bergabung di Grup Pikiran Rakyat dan Jawa Pos itu berasumsi bahwa sembari memburu berita hangat, ketaatan pada Sang Pencipta tetap nomor satu. Biar beritanya pedas, hatinya tetap adem.

Pada akhirnya, kiprah Azis Abdullah membuktikan satu hal: jadi jurnalis itu bukan cuma soal kejar headline atau berburu clicks. Ini tentang menjaga amanah profesi dengan racikan keberanian, etika, dan dedikasi penuh untuk masyarakat. ***

Iwa Ahmad Sugriwa, Pengurus PWI Kabupaten Bandung.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here