Aktivis Bandung Kupas Buku Kepemimpinan AHY, Ini Bahasannya

BANDUNG– Buku berjudul Kepemimpinan AHY jadi bahasan dalam diskusi yang dihadiri para aktivis pemuda dan mahasiswa di Bandung. Banyak hal disorot, salah satunya soal kuasa hubungan sipil-militer.

Bedah buku menghadirkan dua dosen yang juga kandidat doktor, yaitu M. Afdal Abdiansyah, M.A dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Vera Hermawan, Mi. Kom dari Universitas Pasundan (Unpas). Keduanya di zaman mahasiswa sebagai ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Penyunting buku, Dr Herzaky Mahendra Putra hadir langsung dari Jakarta. Berikutnya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Dr. M. Hailuki. Di bagian akhir turut bergabung anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri dan Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi.

Kegiatan dilaksanakan di Kanz Cafe, Jl Terusan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jum’at (30/10/2026). Sementara para peserta datang dari berbagai kampus di Bandung. Termasuk aktivis HMI, PMII, BMI, Genta, dan Gisma.

“Ternyata ada tiga ketua BEM FISIP yang jadi pembicara di sini. Kalau saya dulu ketua BEM FISIP UI, yang di sebelah kanan dan kiri saya FISIP Unpad dan Unpas,” ujar Herzaky.

Hailuki juga pernah jadi presiden mahasiswa IISIP Jakarta. Sebelum kemudian menyelesaikan S2 dan S3 di FISIP Unpad dari prodi administrasi publik.

Terkait cover buku yang sempat dipertanyakan seorang aktivis, Herzaky menyebut disiapkan designer grafis dan tidak diputuskan AHY. “Mas AHY malah kaget, buku sudah dicetak dan saya bilang minta hadir di peluncuran buku karya 27 penulis. Para penulis tidak ada satu pun yang punya hubungan kerja dan politik dengan Mas AHY,” ungkap Herzaky.

Menurut staf khusus Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan ini, dia kenal AHY saat sama-sama di SMA Taruna Nusantara. Lalu terlibat saat AHY maju Pilgub DKI Jakarta, kemudian gabung di Partai Demokrat, dan sama-sama menempuh S3 di Universitas Airlangga, Surabaya.

“Soal cover buku clear ya. Soal gaya militer yang kaku dan garis komando, saya pastikan Mas AHY tidak pernah ABS (asal bapak senang). Dan tidak harus berita baik. Mas AHY itu mendengarkan, baca dan analisis data, lalu memutuskan sesuatu sesuai tanggung jawabnya dengan penuh empati,” katanya.

Sebagai anak dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), jelas Herzaky, itu adalah fakta dan takdir biologis. “Tidak mungkin lah Mas AHY bilang saya bukan anaknya Pak SBY,” tegas Herzaky.

Herzaky juga menyebut inner circle AHY baik di Partai Demokrat maupun Kemenko Infrastruktur sangat terbuka dan egaliter. “Ada saya yang sipil. Ada Merry Riana yang Beliau sebut sendiri sebagai triple minority,” katanya.

Di Partai, lanjutnya, AHY punya tim yang selalu tampil di lini depan publik. Di DPR, misalnya, ada sosok Dede Yusuf dan Benny K. Harman. Lalu ada tokoh Aceh seperti Teuku Riefky Harsya. “Sekjen, Kang Herman Khaeron dari Jawa Barat. Lalu Irwan Fecho, orang Bugis yang jadi bendahara umum. Semuanya sipil,” ungkap Herzaky.

Sementara itu, Dede Yusuf sempat menyinggung sosok pemimpin yang relevan dengan tantangan zaman. Menurut dia, pemimpin bukan soal muda atau tua. Tapi lebih kepada kebijaksanaannya.

“Ada yang muda tapi bertindak sewenang-wenang. Ada juga yang tua tapi tidak bijaksana. Sisi kebijaksanaan inilah yang dituangkan dalam baktinya,” ungkap Dede Yusuf.

Dijelaskan pula, SBY itu jenderal yang tidak militeristik. Bahkan dia lebih sipil daripada orang-orang sipil. “Saya belajar dan adopsi dari Pak SBY dan Mas AHY. Keduanya selalu memberi ruang anak-anak muda untuk tampil dan berperan. Hal itu pula yang saya terapkan di Rancage,” tegas Dede Yusuf.

Kepada para anak muda Dede Yusuf berpesan bahwa jadi pemimpin itu karena ada kesempatan. Bukan datang begitu saja dari langit. “Anak muda harus merebut kesempatan. Dengan cara apa? Cari mentor yang tepat. Beradalah di sanad yang tepat,” pesan wakil ketua umum Partai Demokrat ini. (adb)

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img